Kecelakaan pesawat Cessna 172 milik Global Aviation Flying School dengan registrasi PK-TGW yang mengalami runway excursion di Bandar Udara Budiarto, Tangerang, pada tanggal 20 Desember 2016.
Berikut adalah ringkasan temuan dalam laporan investigasi tersebut:
Kecelakaan terjadi karena pesawat keluar dari landasan pacu selama mendarat, disebabkan oleh pengereman yang tidak optimal.
Pesawat tidak dilengkapi dengan sistem anti-lock braking system (ABS), yang membuat kemampuan pengereman menjadi tidak optimal.
Faktor kontribusi lainnya adalah kurangnya pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan dan kurangnya pengawasan oleh instruktur penerbangan.
Global Aviation Flying School disarankan untuk meningkatkan pelatihan pilot, termasuk pelatihan keterampilan pendaratan dan manajemen risiko penerbangan.
Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) disarankan untuk memperketat persyaratan keselamatan pada sekolah penerbangan dan memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
Produsen pesawat disarankan untuk mempertimbangkan pemasangan sistem ABS pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.
KNKT merekomendasikan regulator penerbangan internasional (International Civil Aviation Organization) untuk melakukan peninjauan terhadap ketersediaan sistem ABS pada pesawat jenis ini.
DETAIL INVESTIGASI
FINDINGS
Berikut adalah detail temuan dalam laporan investigasi kecelakaan pesawat Cessna 172 PK-TGW yang terjadi pada 20 Desember 2016:
- Kecelakaan terjadi saat pesawat mendarat dan keluar dari landasan pacu. Faktor utama penyebab kecelakaan ini adalah pengereman yang tidak optimal.
- Pesawat tidak dilengkapi dengan sistem anti-lock braking system (ABS), yang membuat kemampuan pengereman menjadi tidak optimal. Hal ini membuat pengereman menjadi terhambat dan akhirnya tidak dapat menghentikan pesawat dengan tepat pada saat mendarat.
- Pilot melakukan pendaratan dengan kecepatan terlalu tinggi dan menggunakan jarak pendaratan yang tidak mencukupi, sehingga menyebabkan pesawat keluar dari landasan pacu.
- Pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan sangat minim, yaitu hanya 3 jam dari total 110 jam jam terbang, dan belum dilengkapi dengan pelatihan lanjutan.
- Instruktur penerbangan tidak mengawasi secara langsung ketika siswa melakukan penerbangan solo. Instruktur juga tidak melakukan pengecekan terhadap pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan.
- Pelaksanaan pengujian kelayakan pesawat tidak sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.
- Sistem pengereman pada pesawat juga tidak diperiksa secara rutin dan ditemukan adanya kerusakan pada sistem pengereman pada saat dilakukan pemeriksaan setelah kecelakaan.
- Penyimpanan data pesawat yang direkam oleh kotak hitam tidak terlindungi, sehingga beberapa data yang terekam hilang atau tidak dapat dibaca.
- Global Aviation Flying School tidak memiliki sistem manajemen keselamatan terstandarisasi dan tidak melakukan audit keselamatan secara teratur.
- Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) kurang ketat dalam melakukan pengawasan terhadap sekolah penerbangan dan pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
- Produsen pesawat (Cessna) belum mempertimbangkan pemasangan sistem ABS pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.
Dari temuan di atas, KNKT merekomendasikan beberapa tindakan keselamatan, termasuk peningkatan pelatihan pilot dan manajemen risiko penerbangan, serta pemasangan sistem anti-lock braking system (ABS) pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion. Selain itu, KNKT juga merekomendasikan pihak terkait untuk melakukan tindakan lebih lanjut terkait dengan temuan-temuan di atas.
CONTRIBUTING FACTORS
Berikut adalah detail faktor kontribusi dan daftar rekomendasi dalam laporan investigasi kecelakaan pesawat Cessna 172 PK-TGW yang terjadi pada 20 Desember 2016:
Faktor Kontribusi:
- Pengereman yang tidak optimal karena pesawat tidak dilengkapi dengan sistem anti-lock braking system (ABS).
- Pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan yang sangat minim.
- Instruktur penerbangan tidak mengawasi secara langsung ketika siswa melakukan penerbangan solo dan tidak melakukan pengecekan terhadap pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan.
- Pelaksanaan pengujian kelayakan pesawat tidak sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.
- Sistem pengereman pada pesawat juga tidak diperiksa secara rutin dan ditemukan adanya kerusakan pada sistem pengereman pada saat dilakukan pemeriksaan setelah kecelakaan.
- Penyimpanan data pesawat yang direkam oleh kotak hitam tidak terlindungi.
- Global Aviation Flying School tidak memiliki sistem manajemen keselamatan terstandarisasi dan tidak melakukan audit keselamatan secara teratur.
- Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) kurang ketat dalam melakukan pengawasan terhadap sekolah penerbangan dan pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
REKOMENDASI
- Global Aviation Flying School harus meningkatkan pelatihan pilot dan manajemen risiko penerbangan serta melakukan audit keselamatan secara teratur.
- Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) harus memperketat pengawasan terhadap sekolah penerbangan dan pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
- Produsen pesawat (Cessna) harus mempertimbangkan pemasangan sistem ABS pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.
- Global Aviation Flying School harus meningkatkan pengawasan dan monitoring terhadap siswa dan instruktur penerbangan selama proses pelatihan.
- Global Aviation Flying School harus melakukan pengujian kelayakan pesawat secara rutin dan terstandarisasi.
- Global Aviation Flying School harus memperbaiki sistem rekaman data pesawat dan melakukan penyimpanan data dengan aman.
- Global Aviation Flying School harus memperbaiki sistem manajemen keselamatan dan meningkatkan pelatihan bagi karyawan dan siswa untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan penerbangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar