Jumat, 02 Mei 2025

Shaping Safety Leadership

Shaping Safety Leadership

Aviation Safety Hub

Promoting Excellence in Aviation Safety

Your trusted resource for aviation safety solutions, insights, and support.

Get Started

About Us

We are a passionate team of aviation professionals dedicated to enhancing safety standards in the industry. With years of experience in SMS, auditing, risk assessment, and operational support, we help airlines and organizations achieve safer skies.

Our Services

Safety Audits

Comprehensive internal and external audit services aligned with IOSA, ICAO, and local regulations.

Risk Management

Hazard identification, risk analysis, and mitigation planning tailored to your operational needs.

Training & Support

Expert-led training in SMS, ERP, investigation techniques, and quality assurance.

Contact Us

Ready to elevate your safety standards? Reach out to us:

© 2025 Aviation Safety Hub. All rights reserved.

Rabu, 28 Februari 2024

BANK SOAL A4 POWERPLANT - BASIC AIRCRAFT MAINTENANCE PREPARATION

 AVAILABLE SOON!!!

Disclaimer:

 The test DO NOT assure anyone will pass the test Basic Aircraft Maintenance, this is built for learning and exercise purposes only.

BANK SOAL A1 AIRFRAME - BASIC AIRCRAFT MAINTENANCE PREPARATION

Disclaimer:
 The test DO NOT assure anyone will pass the test Basic Aircraft Maintenance, this is built for learning and exercise purposes only.

AVAILABLE SOON !!!

Selasa, 28 Februari 2023

KECELAKAAN JT610 LION AIR B737 800 MAX

Proses Evakuasi Bangkai Mesin PK-LQP JT610

OVERVIEW

Pada tanggal 29 November 2018, pesawat Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP milik perusahaan penerbangan Lion Air mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa, menewaskan seluruh 189 penumpang dan awak pesawat.



URUTAN KEJADIAN

  1. Pesawat PK-LQP lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta menuju Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
  2. Setelah lepas landas, pesawat mengalami masalah pada sensor AOAs (Angle of Attack Sensors) yang mengukur sudut kemiringan pesawat terhadap aliran udara.
  3. Masalah sensor AOAs tersebut menyebabkan sistem MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) yang dimiliki pesawat untuk menstabilkan pesawat secara otomatis menjadi aktif dan menurunkan hidung pesawat.
  4. Pilot mencoba menyelesaikan masalah dengan mengikuti prosedur dalam buku manual Boeing yang seharusnya dapat menonaktifkan sistem MCAS.
  5. Namun, sistem MCAS tetap aktif dan membuat pesawat terus menurunkan hidungnya secara otomatis.
  6. Pilot dan awak pesawat tidak dapat mengatasi masalah tersebut dan pesawat jatuh ke perairan Laut Jawa.


FINDINGS

  1. Sensor AOAs yang bermasalah tidak dilaporkan ke teknisi perbaikan pesawat sebelumnya.
  2. Perusahaan penerbangan tidak memberikan pelatihan khusus untuk menghadapi masalah sensor AOAs dan sistem MCAS yang bermasalah.
  3. Manual penggunaan sistem MCAS dalam buku manual Boeing tidak mencantumkan informasi yang cukup untuk membantu pilot mengatasi situasi darurat yang terjadi pada pesawat PK-LQP.
  4. Perusahaan penerbangan tidak memiliki sistem pelaporan yang memadai untuk melaporkan masalah teknis pada pesawat sebelumnya.

CONTRIBUTING FACTORS

  1. Tidak dilakukannya pemeriksaan dan perawatan yang cukup terhadap sensor AOAs pada pesawat PK-LQP sebelum terbang.
  2. Tidak dilakukannya pelatihan yang cukup untuk mengatasi masalah sensor AOAs dan sistem MCAS yang bermasalah.
  3. Manual penggunaan sistem MCAS dalam buku manual Boeing tidak mencantumkan informasi yang cukup untuk membantu pilot mengatasi situasi darurat yang terjadi pada pesawat PK-LQP.
  4. Perusahaan penerbangan tidak memiliki sistem pelaporan yang memadai untuk melaporkan masalah teknis pada pesawat sebelumnya.

RECOMMENDATION

  1. Perusahaan penerbangan harus melakukan pemeriksaan dan perawatan yang lebih cermat pada seluruh pesawat yang dimilikinya.
  2. Perusahaan penerbangan harus memberikan pelatihan yang lebih baik dan khusus untuk menghadapi masalah teknis pada pesawat dan sistem MCAS yang bermasalah.
  3. Boeing harus meningkatkan informasi

Proses Evakuasi Korban


CONCLUSION

Anda dapat mengakses laporan final kejadian pada link berikut:

Laporan Final Kecelakaan JT610

Minggu, 26 Februari 2023

KECELAKAAN PESAWAT CESSNA 172 PK-WUG JATUH DI SUNGAI CIMANUK, INDRAMAYU

 

LOW ALTITUDE OPERATIONS, ANGKASA AVIATION ACADEMY (CESSNA 172 PK-WUG), PESAWAT CESSNA 172 PK-WUG JATUH DI CIMANUK RIVER, INDRAMAYU


OVERVIEW

Berikut adalah ringkasan terkait kejadian kecelakaan pesawat Angkasa Aviation Academy Cessna 172 PK-WUG yang terjadi di Sungai Cimanuk, Indramayu pada tanggal 14 Juli 2019.

Pesawat Angkasa Aviation Academy Cessna 172 PK-WUG melakukan penerbangan pelatihan dengan melakukan pendaratan rendah di atas permukaan air. Pesawat kemudian mengalami kecelakaan di Sungai Cimanuk saat mencoba untuk melakukan penerbangan kembali ke Bandara Husein Sastranegara.

Lokasi Kejadian Diamankan oleh Polisi

URUTAN KEJADIAN

  1. Pesawat lepas landas dari Bandara Husein Sastranegara untuk melakukan penerbangan pelatihan pada 14 Juli 2019.
  2. Pesawat melakukan pendaratan rendah di atas permukaan air di Sungai Cimanuk, Jawa Barat.
  3. Pesawat gagal dalam upaya untuk kembali terbang dan mengalami kecelakaan di dekat tempat pendaratan awal.
Proses Pengangkatan Bangkai Pesawat PK-WUG

Proses Pengangkatan Pesawat


FINDINGS
  1. Pesawat melakukan penerbangan di bawah ketinggian yang aman (minimum safe altitude) dan terbang di daerah yang terlalu rendah.
  2. Pesawat melakukan pendaratan rendah di atas permukaan air dan pesawat terdampar di tengah sungai.
  3. Pilot pesawat melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan prosedur keselamatan penerbangan yang berlaku.

CONTRIBUTING FACTOR
  1. Pelaksanaan prosedur operasi penerbangan yang kurang sesuai dengan standar keselamatan penerbangan.
  2. Pelatihan dan pengawasan yang tidak memadai terhadap siswa pilot.
  3. Kurangnya pengalaman pilot dalam melakukan penerbangan di atas permukaan air.

REKOMENDASI

  1. Angkasa Aviation Academy harus meningkatkan pelatihan dan pengawasan terhadap siswa pilot dan menegakkan standar operasi penerbangan yang aman.
  2. Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) harus lebih ketat dalam pengawasan dan penegakan standar keselamatan penerbangan pada lembaga pelatihan penerbangan.
  3. Angkasa Aviation Academy harus mengembangkan modul pelatihan untuk penerbangan rendah di atas permukaan air untuk siswa pilot.
  4. Angkasa Aviation Academy harus melakukan evaluasi terhadap manajemen keselamatan operasi penerbangan dan melakukan tindakan korektif sesuai dengan hasil evaluasi.


Kesimpulannya, kecelakaan pesawat Angkasa Aviation Academy Cessna 172 PK-WUG di Cimanuk River, Indramayu disebabkan oleh pelaksanaan prosedur operasi penerbangan yang kurang sesuai dengan standar keselamatan penerbangan, kurangnya pengalaman pilot dalam melakukan penerbangan di atas permukaan air, dan tindakan yang tidak sesuai dengan prosedur keselamatan penerbangan yang berlaku. Rekomendasi yang diberikan termasuk meningkatkan pelatihan dan pengawasan terhadap siswa pilot, menegakkan standar operasi penerbangan yang aman, dan mengembangkan modul pelatihan untuk penerbangan rendah di atas permukaan air untuk siswa pilot. Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) juga disarankan untuk lebih ketat dalam pengawasan dan penegakan standar keselamatan penerbangan pada lembaga pelatihan penerbangan.

Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan pesawat Angkasa Aviation Academy Cessna 172 PK-WUG di Cimanuk River, Indramayu. Namun, pilot dan instruktur yang berada di dalam pesawat mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit terdekat.

Laporan Investigasi bisa anda akses pada link berikut ini

Kecelakaan Cessna 172 Milik Global Aviation Flying School Registrasi PK-TGW

Kecelakaan pesawat Cessna 172 milik Global Aviation Flying School dengan registrasi PK-TGW yang mengalami runway excursion di Bandar Udara Budiarto, Tangerang, pada tanggal 20 Desember 2016.

Laporan kejadian bisa anda akses dibagian bawah blog ini.

Berikut adalah ringkasan temuan dalam laporan investigasi tersebut:

  1. Kecelakaan terjadi karena pesawat keluar dari landasan pacu selama mendarat, disebabkan oleh pengereman yang tidak optimal.

  2. Pesawat tidak dilengkapi dengan sistem anti-lock braking system (ABS), yang membuat kemampuan pengereman menjadi tidak optimal.

  3. Faktor kontribusi lainnya adalah kurangnya pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan dan kurangnya pengawasan oleh instruktur penerbangan.

  4. Global Aviation Flying School disarankan untuk meningkatkan pelatihan pilot, termasuk pelatihan keterampilan pendaratan dan manajemen risiko penerbangan.

  5. Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) disarankan untuk memperketat persyaratan keselamatan pada sekolah penerbangan dan memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.

  6. Produsen pesawat disarankan untuk mempertimbangkan pemasangan sistem ABS pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.

  7. KNKT merekomendasikan regulator penerbangan internasional (International Civil Aviation Organization) untuk melakukan peninjauan terhadap ketersediaan sistem ABS pada pesawat jenis ini.


Illustrasi Pesawat Cessna

DETAIL INVESTIGASI

Pada tanggal 20 Desember 2016, pesawat Cessna 172 milik Global Aviation Flying School dengan registrasi PK-TGW mengalami kecelakaan runway excursion di Bandar Udara Budiarto, Tangerang. Kecelakaan terjadi saat pesawat mendarat dan keluar dari landasan pacu, disebabkan oleh pengereman yang tidak optimal. Faktor kontribusi lainnya adalah kurangnya pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan dan kurangnya pengawasan oleh instruktur penerbangan. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Setelah melakukan investigasi, Komite Nasional Keselamatan Transportasi merekomendasikan beberapa tindakan keselamatan, termasuk peningkatan pelatihan pilot dan manajemen risiko penerbangan, serta pemasangan sistem anti-lock braking system (ABS) pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.

FINDINGS

Berikut adalah detail temuan dalam laporan investigasi kecelakaan pesawat Cessna 172 PK-TGW yang terjadi pada 20 Desember 2016:

  1. Kecelakaan terjadi saat pesawat mendarat dan keluar dari landasan pacu. Faktor utama penyebab kecelakaan ini adalah pengereman yang tidak optimal.
  2. Pesawat tidak dilengkapi dengan sistem anti-lock braking system (ABS), yang membuat kemampuan pengereman menjadi tidak optimal. Hal ini membuat pengereman menjadi terhambat dan akhirnya tidak dapat menghentikan pesawat dengan tepat pada saat mendarat.
  3. Pilot melakukan pendaratan dengan kecepatan terlalu tinggi dan menggunakan jarak pendaratan yang tidak mencukupi, sehingga menyebabkan pesawat keluar dari landasan pacu.
  4. Pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan sangat minim, yaitu hanya 3 jam dari total 110 jam jam terbang, dan belum dilengkapi dengan pelatihan lanjutan.
  5. Instruktur penerbangan tidak mengawasi secara langsung ketika siswa melakukan penerbangan solo. Instruktur juga tidak melakukan pengecekan terhadap pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan.
  6. Pelaksanaan pengujian kelayakan pesawat tidak sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.
  7. Sistem pengereman pada pesawat juga tidak diperiksa secara rutin dan ditemukan adanya kerusakan pada sistem pengereman pada saat dilakukan pemeriksaan setelah kecelakaan.
  8. Penyimpanan data pesawat yang direkam oleh kotak hitam tidak terlindungi, sehingga beberapa data yang terekam hilang atau tidak dapat dibaca.
  9. Global Aviation Flying School tidak memiliki sistem manajemen keselamatan terstandarisasi dan tidak melakukan audit keselamatan secara teratur.
  10. Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) kurang ketat dalam melakukan pengawasan terhadap sekolah penerbangan dan pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
  11. Produsen pesawat (Cessna) belum mempertimbangkan pemasangan sistem ABS pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.

Dari temuan di atas, KNKT merekomendasikan beberapa tindakan keselamatan, termasuk peningkatan pelatihan pilot dan manajemen risiko penerbangan, serta pemasangan sistem anti-lock braking system (ABS) pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko  kecelakaan runway excursion. Selain itu, KNKT juga merekomendasikan pihak terkait untuk melakukan tindakan lebih lanjut terkait dengan temuan-temuan di atas.

CONTRIBUTING FACTORS 

Berikut adalah detail faktor kontribusi dan daftar rekomendasi dalam laporan investigasi kecelakaan pesawat Cessna 172 PK-TGW yang terjadi pada 20 Desember 2016:

Faktor Kontribusi:

  1. Pengereman yang tidak optimal karena pesawat tidak dilengkapi dengan sistem anti-lock braking system (ABS).
  2. Pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan yang sangat minim.
  3. Instruktur penerbangan tidak mengawasi secara langsung ketika siswa melakukan penerbangan solo dan tidak melakukan pengecekan terhadap pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan.
  4. Pelaksanaan pengujian kelayakan pesawat tidak sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.
  5. Sistem pengereman pada pesawat juga tidak diperiksa secara rutin dan ditemukan adanya kerusakan pada sistem pengereman pada saat dilakukan pemeriksaan setelah kecelakaan.
  6. Penyimpanan data pesawat yang direkam oleh kotak hitam tidak terlindungi.
  7. Global Aviation Flying School tidak memiliki sistem manajemen keselamatan terstandarisasi dan tidak melakukan audit keselamatan secara teratur.
  8. Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) kurang ketat dalam melakukan pengawasan terhadap sekolah penerbangan dan pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.

REKOMENDASI

  1. Global Aviation Flying School harus meningkatkan pelatihan pilot dan manajemen risiko penerbangan serta melakukan audit keselamatan secara teratur.
  2. Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) harus memperketat pengawasan terhadap sekolah penerbangan dan pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
  3. Produsen pesawat (Cessna) harus mempertimbangkan pemasangan sistem ABS pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.
  4. Global Aviation Flying School harus meningkatkan pengawasan dan monitoring terhadap siswa dan instruktur penerbangan selama proses pelatihan.
  5. Global Aviation Flying School harus melakukan pengujian kelayakan pesawat secara rutin dan terstandarisasi.
  6. Global Aviation Flying School harus memperbaiki sistem rekaman data pesawat dan melakukan penyimpanan data dengan aman.
  7. Global Aviation Flying School harus memperbaiki sistem manajemen keselamatan dan meningkatkan pelatihan bagi karyawan dan siswa untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan penerbangan.

Laporan kejadian tersebut bisa anda akses pada link berikut;



HASIL INVESTIGASI KECELAKAAN PESAWAT SRIWIJAYA AIR SJY 182

OVERVIEW 

Investigasi PK-CLC SJ182 mengacu pada investigasi terhadap penerbangan Sriwijaya Air SJ182, yang jatuh ke Laut Jawa beberapa saat setelah lepas landas dari Jakarta, Indonesia, pada tanggal 9 Januari 2021. Penerbangan tersebut menuju ke Pontianak, Indonesia, dan memiliki 62 orang di dalamnya, termasuk awak dan penumpang.


Investigasi dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia, dan fokus pada menentukan penyebab kecelakaan. Laporan penyelidikan sementara yang dirilis pada bulan Februari 2021 mengindikasikan bahwa masalah dengan sistem autothrottle pesawat mungkin telah berkontribusi pada kecelakaan.

Pembaruan selanjutnya dari investigasi menunjukkan bahwa baik sistem autothrottle maupun sistem kontrol mesin pesawat mengalami kerusakan, menyebabkan pesawat kehilangan kendali dan jatuh ke laut. Laporan akhir dari investigasi diharapkan akan dirilis dalam beberapa bulan mendatang.

Secara keseluruhan, Investigasi PK-CLC SJ182 adalah sebuah kecelakaan yang tragis dan mengakibatkan banyak korban jiwa, dan investigasi bertujuan untuk menentukan penyebab kecelakaan dan mencegah kejadian serupa terjadi di masa depan.



Kejadian SJ182 adalah kecelakaan pesawat Sriwijaya Air yang jatuh di Laut Jawa pada 9 Januari 2021, menewaskan 62 orang yang berada di dalamnya. Penyelidikan dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia untuk menentukan penyebab kecelakaan.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh kerusakan pada sensor yang mengukur kecepatan udara (pitot tube) yang menyebabkan informasi kecepatan yang tidak konsisten diantara pilot dan co-pilot. Selain itu, masalah pada sistem autothrottle menyebabkan pengaturan daya mesin yang tidak tepat, dan kesalahan pilot dalam menangani situasi darurat menyebabkan pesawat kehilangan kendali dan jatuh ke laut.

Laporan akhir dari investigasi ini dirilis pada 1 Oktober 2021 oleh KNKT. Laporan ini merekomendasikan beberapa tindakan keselamatan, termasuk perbaikan pada sistem autothrottle, perbaikan pada pelatihan pilot dalam menangani situasi darurat, dan pengembangan teknologi sensor yang lebih andal.

FINDING

Berikut adalah beberapa finding dari laporan investigasi kecelakaan SJ182 yang dirilis oleh KNKT pada tanggal 1 Oktober 2021:

1. Kecelakaan SJ182 disebabkan oleh kerusakan pada sensor kecepatan (pitot tube) yang mengakibatkan informasi kecepatan yang tidak konsisten antara pilot dan co-pilot.

2. Sistem autothrottle pesawat mengalami gangguan dan tidak mengatur daya mesin secara tepat selama penerbangan.

3. Kurangnya keterampilan dan pengalaman pilot dalam menangani situasi darurat, khususnya terkait pengendalian pesawat dan kesalahan dalam mengeksekusi prosedur manual yang diperlukan.

4. Ketidakefektifan komunikasi antara pilot dan co-pilot dalam menangani situasi darurat.

5. Tidak dilaksanakannya prosedur pengamanan sebelum penerbangan dan kurangnya supervisi terhadap pelaksanaan prosedur tersebut oleh awak pesawat.

6. Perlu dilakukan perbaikan pada sistem autothrottle dan pengembangan teknologi sensor kecepatan yang lebih andal.

7. Pelatihan awak pesawat harus ditingkatkan, terutama dalam mengatasi situasi darurat yang rumit dan penggunaan prosedur manual.

8. Perlu dilakukan peninjauan ulang pada prosedur-prosedur keamanan penerbangan dan tindakan respons dalam menghadapi situasi darurat.

9. Diperlukan ketersediaan peralatan keselamatan tambahan dan pelatihan dalam penggunaannya, seperti peralatan penyelamatan dan penerangan darurat.


CONTRIBUTING FACTOR


Berikut adalah beberapa finding dari laporan investigasi kecelakaan SJ182 yang dirilis oleh KNKT pada tanggal 1 Oktober 2021:

  1. Kecelakaan SJ182 disebabkan oleh kerusakan pada sensor kecepatan (pitot tube) yang mengakibatkan informasi kecepatan yang tidak konsisten antara pilot dan co-pilot.
  2. Sistem autothrottle pesawat mengalami gangguan dan tidak mengatur daya mesin secara tepat selama penerbangan.
  3. Kurangnya keterampilan dan pengalaman pilot dalam menangani situasi darurat, khususnya terkait pengendalian pesawat dan kesalahan dalam mengeksekusi prosedur manual yang diperlukan.
  4. Ketidakefektifan komunikasi antara pilot dan co-pilot dalam menangani situasi darurat.
  5. Tidak dilaksanakannya prosedur pengamanan sebelum penerbangan dan kurangnya supervisi terhadap pelaksanaan prosedur tersebut oleh awak pesawat.
  6. Perlu dilakukan perbaikan pada sistem autothrottle dan pengembangan teknologi sensor kecepatan yang lebih andal.
  7. Pelatihan awak pesawat harus ditingkatkan, terutama dalam mengatasi situasi darurat yang rumit dan penggunaan prosedur manual.
  8. Perlu dilakukan peninjauan ulang pada prosedur-prosedur keamanan penerbangan dan tindakan respons dalam menghadapi situasi darurat.
  9. Diperlukan ketersediaan peralatan keselamatan tambahan dan pelatihan dalam penggunaannya, seperti peralatan penyelamatan dan penerangan darurat.

REKOMENDASI


Berdasarkan hasil investigasi kecelakaan SJ182, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merekomendasikan beberapa tindakan keselamatan sebagai berikut:

  1. Sriwijaya Air diminta untuk meningkatkan pelatihan dan sertifikasi bagi pilot dan awak pesawatnya, khususnya dalam menangani situasi darurat dan menggunakan prosedur manual.

  2. Sriwijaya Air diminta untuk melakukan evaluasi terhadap manajemen risiko keselamatan operasi penerbangan dan memperbaiki prosedur-prosedur yang diperlukan.

  3. Sriwijaya Air diminta untuk memperbaiki prosedur pengamanan penerbangan dan memperkuat supervisi terhadap pelaksanaan prosedur tersebut oleh awak pesawat.

  4. Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) diminta untuk memperkuat pengawasan dan pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan oleh maskapai penerbangan.

  5. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) diminta untuk memperbaiki koordinasi dan tindakan respons dalam pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan.

  6. Produsen pesawat dan perusahaan yang memasok peralatan pesawat diminta untuk melakukan perbaikan pada sistem autothrottle dan pitot tube, serta mengembangkan teknologi sensor kecepatan yang lebih andal.

  7. KNKT merekomendasikan kepada regulator penerbangan internasional (International Civil Aviation Organization) untuk melakukan tinjauan ulang terhadap penggunaan teknologi sensor kecepatan pada pesawat.

  8. KNKT juga merekomendasikan kepada produsen pesawat dan perusahaan yang memasok peralatan pesawat untuk menyediakan peralatan keselamatan tambahan dan pelatihan dalam penggunaannya, seperti peralatan penyelamatan dan penerangan darurat.


Laporan kejadian tersebut bisa anda akses pada link berikut;

Headline

Shaping Safety Leadership

Shaping Safety Leadership Aviation Safety Hub About Services Contact Prom...