CEO/DIRUT MENGATUR EKSPEKTASI SAFETY DI ORGANISASINYA.
SAFETY UNTUK PARA CEO/DIRUT PART #1
Chief executive officer (CEO; or the ‘accountable executive’, depending on the type of certificate) is ultimately accountable for safety. Disini ultimate resposibility ada ditangan dan dimulut para pemimpin tertinggi perusahaan ataupun organisasi terlepas apapun jenis usahanya.
CEO harus jadi seorang Navigator memberi arah yang jelas kemana safety akan dibawa, menjadi sutradara utama yang menyusun skenario terbaiknya. CEO harus meng-create- a clear safety vision. Betul betul itu adalah Safety Expectation milik CEO yang harus diturunkan kebawah sampai ke lini terakhir organisasi, TOP TO DOWN. Safety Expectation harus datang dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas. Bukan dari Engineer, Pilot, Staff, Cabin Crew, Analyst, Officer ke Director sampai ke CEO. Yang datang dari bawah ke atas bukan expectation/policy melainkan hasil pelaksanaan atau Data untuk direview kembali oleh CEO untuk menentukan apakah diperlukan adjustment/improvement/maintain jika masih relevan ekspektasi tersebut.
CEO harus menjelaskan secara clear apa safety expectationnya, bagaimana safety itu menjadi fundamental dalam organisasinya dan bagaimana peran safety itu menjadi roda utama bukan sekedar tambahan dalam memastikan bisnis nya akan bertumbuh dan berkelanjutan.
Selanjutnya, langkah-langkah yang diambil oleh management dan karyawan akan mampu menciptakan Safety Culture yang lebih positif.
Pada akhirnya semua ekspektasi CEO harus menjadi ekspektasi nya tim fungsional. Jika fungsional di dalam organisasi ada dalam 4 Unit Direktorat, maka harusnya secara spesifik ekspektasi ini dibagi 4 dengan clear. Karena 4 unit Direktorat akan menjalankan responsibility yang berbeda beda, mereka tidak memiliki kewenangan penuh seperti CEO (Accountable).
Safety Expectation harus terukur dan tangible. Banyak contoh tersedia di dunia industri aviasi. Tapi yang lahir dari standard dan generik pasti akan disuarakan secara terus menerus di dalam organisasinya melalui meeting, training, regulasi, blusukan blusukan atau sistem yang ada di dalam organisasi.
Karyawan tidak seharusnya dibebankan dengan keluhan seperti kenapa tidak ada standard, kenapa tidak ada keputusan, kenapa dibiarkan, dst.
Apakah peran ini cukup berat untuk CEO jalankan?
Bisnis harus berjalan, tapi semua langkah harus efektif. Jangan sampai karena organisasi tidak clear dan semua orang diberi kewenangan mengambil keputusan menjadi liar yang akhirnya proses menjadi rumit dan merugikan. Bisnis yang bagus adalah bisnis yang memiliki strategi yang efektif.
Note: Tulisan ini sengaja ditulis dalam bahasa Indonesia, karena memang targetnya dunia keselamatan di Indonesia.
Demikian sebuah pandangan yang terpikir hari ini. Part #1
Salam,
Yuliver Sidabalok
Timor Leste

Tidak ada komentar:
Posting Komentar