Rabu, 15 Juli 2026

KITA SEMUA ADALAH LEADERS DI DALAM SAFETY

‘We are all leaders in safety’

Safety Leadership sepenuhnya datang dari atas, From the TOP, namun dalam aviasi semua orang (bahkan OB/Office boy) terlepas apapun posisi anda, dapat membuat perbedaan yang besar dalam mengurangi angka kecelakaan, menghilangkan peluang tragedi. 

Keberhasilan ke depan tergantung pada apa yang masing masing kita ajarkan, latihakan, bantukan kepada satu sama lain. Jadi, tidak boleh ada yang terluka dan tidak ada pesawat yang rusak. 




CEO/DIRUT MENGATUR EKSPEKTASI SAFETY DI ORGANISASINYA. SAFETY UNTUK PARA CEO/DIRUT PART 1

CEO/DIRUT MENGATUR EKSPEKTASI SAFETY DI ORGANISASINYA.
SAFETY UNTUK PARA CEO/DIRUT PART #1

Chief executive officer (CEO; or the  ‘accountable executive’, depending on the type of certificate) is ultimately accountable for safety. Disini ultimate resposibility ada ditangan dan dimulut para pemimpin tertinggi perusahaan ataupun organisasi terlepas apapun jenis usahanya.

CEO harus jadi seorang Navigator memberi arah yang jelas kemana safety akan dibawa, menjadi sutradara utama yang menyusun skenario terbaiknya. CEO harus meng-create- a clear safety vision. Betul betul itu adalah Safety Expectation milik CEO yang harus diturunkan kebawah sampai ke lini terakhir organisasi, TOP TO DOWN. Safety Expectation harus datang dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas. Bukan dari Engineer, Pilot, Staff, Cabin Crew, Analyst, Officer ke Director sampai ke CEO. Yang datang dari bawah ke atas bukan expectation/policy melainkan hasil pelaksanaan atau Data untuk direview kembali oleh CEO untuk menentukan apakah diperlukan adjustment/improvement/maintain jika masih relevan ekspektasi tersebut.


CEO harus menjelaskan secara clear apa safety expectationnya, bagaimana safety itu menjadi fundamental dalam organisasinya dan bagaimana peran safety itu menjadi roda utama bukan sekedar tambahan dalam memastikan bisnis nya akan bertumbuh dan berkelanjutan. 

Selanjutnya, langkah-langkah yang diambil oleh management dan karyawan akan mampu menciptakan Safety Culture yang lebih positif.

Pada akhirnya semua ekspektasi CEO harus menjadi ekspektasi nya tim fungsional. Jika fungsional di dalam organisasi ada dalam 4 Unit Direktorat, maka harusnya secara spesifik ekspektasi ini dibagi 4 dengan clear. Karena 4 unit Direktorat akan menjalankan responsibility yang berbeda beda, mereka tidak memiliki kewenangan penuh seperti CEO (Accountable). 

Safety Expectation harus terukur dan tangible. Banyak contoh tersedia di dunia industri aviasi. Tapi yang lahir dari standard dan generik pasti akan disuarakan secara terus menerus di dalam organisasinya melalui meeting, training, regulasi, blusukan blusukan atau sistem yang ada di dalam organisasi.

Karyawan tidak seharusnya dibebankan dengan keluhan seperti kenapa tidak ada standard, kenapa tidak ada keputusan, kenapa dibiarkan, dst.

Apakah peran ini cukup berat untuk CEO jalankan?

Bisnis harus berjalan, tapi semua langkah harus efektif. Jangan sampai karena organisasi tidak clear dan semua orang diberi kewenangan mengambil keputusan menjadi liar yang akhirnya proses menjadi rumit dan merugikan. Bisnis yang bagus adalah bisnis yang memiliki strategi yang efektif. 


Note: Tulisan ini sengaja ditulis dalam bahasa Indonesia, karena memang targetnya dunia keselamatan di Indonesia. 


Demikian sebuah pandangan yang terpikir hari ini. Part #1
Salam,
Yuliver Sidabalok
Timor Leste



Jumat, 02 Mei 2025

Shaping Safety Leadership

Shaping Safety Leadership

Aviation Safety Hub

Promoting Excellence in Aviation Safety

Your trusted resource for aviation safety solutions, insights, and support.

Get Started

About Us

We are a passionate team of aviation professionals dedicated to enhancing safety standards in the industry. With years of experience in SMS, auditing, risk assessment, and operational support, we help airlines and organizations achieve safer skies.

Our Services

Safety Audits

Comprehensive internal and external audit services aligned with IOSA, ICAO, and local regulations.

Risk Management

Hazard identification, risk analysis, and mitigation planning tailored to your operational needs.

Training & Support

Expert-led training in SMS, ERP, investigation techniques, and quality assurance.

Contact Us

Ready to elevate your safety standards? Reach out to us:

© 2025 Aviation Safety Hub. All rights reserved.

Rabu, 28 Februari 2024

BANK SOAL A4 POWERPLANT - BASIC AIRCRAFT MAINTENANCE PREPARATION

 AVAILABLE SOON!!!

Disclaimer:

 The test DO NOT assure anyone will pass the test Basic Aircraft Maintenance, this is built for learning and exercise purposes only.

BANK SOAL A1 AIRFRAME - BASIC AIRCRAFT MAINTENANCE PREPARATION

Disclaimer:
 The test DO NOT assure anyone will pass the test Basic Aircraft Maintenance, this is built for learning and exercise purposes only.

AVAILABLE SOON !!!

Selasa, 28 Februari 2023

KECELAKAAN JT610 LION AIR B737 800 MAX

Proses Evakuasi Bangkai Mesin PK-LQP JT610

OVERVIEW

Pada tanggal 29 November 2018, pesawat Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP milik perusahaan penerbangan Lion Air mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa, menewaskan seluruh 189 penumpang dan awak pesawat.



URUTAN KEJADIAN

  1. Pesawat PK-LQP lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta menuju Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
  2. Setelah lepas landas, pesawat mengalami masalah pada sensor AOAs (Angle of Attack Sensors) yang mengukur sudut kemiringan pesawat terhadap aliran udara.
  3. Masalah sensor AOAs tersebut menyebabkan sistem MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) yang dimiliki pesawat untuk menstabilkan pesawat secara otomatis menjadi aktif dan menurunkan hidung pesawat.
  4. Pilot mencoba menyelesaikan masalah dengan mengikuti prosedur dalam buku manual Boeing yang seharusnya dapat menonaktifkan sistem MCAS.
  5. Namun, sistem MCAS tetap aktif dan membuat pesawat terus menurunkan hidungnya secara otomatis.
  6. Pilot dan awak pesawat tidak dapat mengatasi masalah tersebut dan pesawat jatuh ke perairan Laut Jawa.


FINDINGS

  1. Sensor AOAs yang bermasalah tidak dilaporkan ke teknisi perbaikan pesawat sebelumnya.
  2. Perusahaan penerbangan tidak memberikan pelatihan khusus untuk menghadapi masalah sensor AOAs dan sistem MCAS yang bermasalah.
  3. Manual penggunaan sistem MCAS dalam buku manual Boeing tidak mencantumkan informasi yang cukup untuk membantu pilot mengatasi situasi darurat yang terjadi pada pesawat PK-LQP.
  4. Perusahaan penerbangan tidak memiliki sistem pelaporan yang memadai untuk melaporkan masalah teknis pada pesawat sebelumnya.

CONTRIBUTING FACTORS

  1. Tidak dilakukannya pemeriksaan dan perawatan yang cukup terhadap sensor AOAs pada pesawat PK-LQP sebelum terbang.
  2. Tidak dilakukannya pelatihan yang cukup untuk mengatasi masalah sensor AOAs dan sistem MCAS yang bermasalah.
  3. Manual penggunaan sistem MCAS dalam buku manual Boeing tidak mencantumkan informasi yang cukup untuk membantu pilot mengatasi situasi darurat yang terjadi pada pesawat PK-LQP.
  4. Perusahaan penerbangan tidak memiliki sistem pelaporan yang memadai untuk melaporkan masalah teknis pada pesawat sebelumnya.

RECOMMENDATION

  1. Perusahaan penerbangan harus melakukan pemeriksaan dan perawatan yang lebih cermat pada seluruh pesawat yang dimilikinya.
  2. Perusahaan penerbangan harus memberikan pelatihan yang lebih baik dan khusus untuk menghadapi masalah teknis pada pesawat dan sistem MCAS yang bermasalah.
  3. Boeing harus meningkatkan informasi

Proses Evakuasi Korban


CONCLUSION

Anda dapat mengakses laporan final kejadian pada link berikut:

Laporan Final Kecelakaan JT610

Headline

KITA SEMUA ADALAH LEADERS DI DALAM SAFETY

‘We are all leaders in safety’ Safety Leadership sepenuhnya datang dari atas, From the TOP, namun dalam aviasi semua orang (bahkan OB/Office...