FLIGHTNIVORA
Media Informasi Penerbangan, Kajian Laporan Investigasi Accident & Incident.
Kamis, 13 November 2025
Jumat, 02 Mei 2025
Shaping Safety Leadership
Aviation Safety Hub
Promoting Excellence in Aviation Safety
Your trusted resource for aviation safety solutions, insights, and support.
Get StartedAbout Us
We are a passionate team of aviation professionals dedicated to enhancing safety standards in the industry. With years of experience in SMS, auditing, risk assessment, and operational support, we help airlines and organizations achieve safer skies.
Our Services
Safety Audits
Comprehensive internal and external audit services aligned with IOSA, ICAO, and local regulations.
Risk Management
Hazard identification, risk analysis, and mitigation planning tailored to your operational needs.
Training & Support
Expert-led training in SMS, ERP, investigation techniques, and quality assurance.
Contact Us
Ready to elevate your safety standards? Reach out to us:
- Email: info@aviationsafetyhub.com
- Phone: +62 812-3456-7890
- Location: Jakarta, Indonesia
Rabu, 28 Februari 2024
BANK SOAL A4 POWERPLANT - BASIC AIRCRAFT MAINTENANCE PREPARATION
AVAILABLE SOON!!!
Disclaimer:
BANK SOAL A1 AIRFRAME - BASIC AIRCRAFT MAINTENANCE PREPARATION
AVAILABLE SOON !!!
Selasa, 28 Februari 2023
KECELAKAAN JT610 LION AIR B737 800 MAX
![]() |
| Proses Evakuasi Bangkai Mesin PK-LQP JT610 |
OVERVIEW
Pada tanggal 29 November 2018, pesawat Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP milik perusahaan penerbangan Lion Air mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa, menewaskan seluruh 189 penumpang dan awak pesawat.
URUTAN KEJADIAN
- Pesawat PK-LQP lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta menuju Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
- Setelah lepas landas, pesawat mengalami masalah pada sensor AOAs (Angle of Attack Sensors) yang mengukur sudut kemiringan pesawat terhadap aliran udara.
- Masalah sensor AOAs tersebut menyebabkan sistem MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) yang dimiliki pesawat untuk menstabilkan pesawat secara otomatis menjadi aktif dan menurunkan hidung pesawat.
- Pilot mencoba menyelesaikan masalah dengan mengikuti prosedur dalam buku manual Boeing yang seharusnya dapat menonaktifkan sistem MCAS.
- Namun, sistem MCAS tetap aktif dan membuat pesawat terus menurunkan hidungnya secara otomatis.
- Pilot dan awak pesawat tidak dapat mengatasi masalah tersebut dan pesawat jatuh ke perairan Laut Jawa.
FINDINGS
- Sensor AOAs yang bermasalah tidak dilaporkan ke teknisi perbaikan pesawat sebelumnya.
- Perusahaan penerbangan tidak memberikan pelatihan khusus untuk menghadapi masalah sensor AOAs dan sistem MCAS yang bermasalah.
- Manual penggunaan sistem MCAS dalam buku manual Boeing tidak mencantumkan informasi yang cukup untuk membantu pilot mengatasi situasi darurat yang terjadi pada pesawat PK-LQP.
- Perusahaan penerbangan tidak memiliki sistem pelaporan yang memadai untuk melaporkan masalah teknis pada pesawat sebelumnya.
CONTRIBUTING FACTORS
- Tidak dilakukannya pemeriksaan dan perawatan yang cukup terhadap sensor AOAs pada pesawat PK-LQP sebelum terbang.
- Tidak dilakukannya pelatihan yang cukup untuk mengatasi masalah sensor AOAs dan sistem MCAS yang bermasalah.
- Manual penggunaan sistem MCAS dalam buku manual Boeing tidak mencantumkan informasi yang cukup untuk membantu pilot mengatasi situasi darurat yang terjadi pada pesawat PK-LQP.
- Perusahaan penerbangan tidak memiliki sistem pelaporan yang memadai untuk melaporkan masalah teknis pada pesawat sebelumnya.
RECOMMENDATION
- Perusahaan penerbangan harus melakukan pemeriksaan dan perawatan yang lebih cermat pada seluruh pesawat yang dimilikinya.
- Perusahaan penerbangan harus memberikan pelatihan yang lebih baik dan khusus untuk menghadapi masalah teknis pada pesawat dan sistem MCAS yang bermasalah.
- Boeing harus meningkatkan informasi
![]() |
| Proses Evakuasi Korban |
Anda dapat mengakses laporan final kejadian pada link berikut:
Minggu, 26 Februari 2023
KECELAKAAN PESAWAT CESSNA 172 PK-WUG JATUH DI SUNGAI CIMANUK, INDRAMAYU
LOW ALTITUDE OPERATIONS, ANGKASA AVIATION ACADEMY (CESSNA 172 PK-WUG), PESAWAT CESSNA 172 PK-WUG JATUH DI CIMANUK RIVER, INDRAMAYU
OVERVIEW
URUTAN KEJADIAN
- Pesawat lepas landas dari Bandara Husein Sastranegara untuk melakukan penerbangan pelatihan pada 14 Juli 2019.
- Pesawat melakukan pendaratan rendah di atas permukaan air di Sungai Cimanuk, Jawa Barat.
- Pesawat gagal dalam upaya untuk kembali terbang dan mengalami kecelakaan di dekat tempat pendaratan awal.
![]() |
| Proses Pengangkatan Bangkai Pesawat PK-WUG |

Proses Pengangkatan Pesawat
FINDINGS- Pesawat melakukan penerbangan di bawah ketinggian yang aman (minimum safe altitude) dan terbang di daerah yang terlalu rendah.
- Pesawat melakukan pendaratan rendah di atas permukaan air dan pesawat terdampar di tengah sungai.
- Pilot pesawat melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan prosedur keselamatan penerbangan yang berlaku.

CONTRIBUTING FACTOR- Pelaksanaan prosedur operasi penerbangan yang kurang sesuai dengan standar keselamatan penerbangan.
- Pelatihan dan pengawasan yang tidak memadai terhadap siswa pilot.
- Kurangnya pengalaman pilot dalam melakukan penerbangan di atas permukaan air.
REKOMENDASI
- Angkasa Aviation Academy harus meningkatkan pelatihan dan pengawasan terhadap siswa pilot dan menegakkan standar operasi penerbangan yang aman.
- Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) harus lebih ketat dalam pengawasan dan penegakan standar keselamatan penerbangan pada lembaga pelatihan penerbangan.
- Angkasa Aviation Academy harus mengembangkan modul pelatihan untuk penerbangan rendah di atas permukaan air untuk siswa pilot.
- Angkasa Aviation Academy harus melakukan evaluasi terhadap manajemen keselamatan operasi penerbangan dan melakukan tindakan korektif sesuai dengan hasil evaluasi.
Kecelakaan Cessna 172 Milik Global Aviation Flying School Registrasi PK-TGW
Kecelakaan pesawat Cessna 172 milik Global Aviation Flying School dengan registrasi PK-TGW yang mengalami runway excursion di Bandar Udara Budiarto, Tangerang, pada tanggal 20 Desember 2016.
Berikut adalah ringkasan temuan dalam laporan investigasi tersebut:
Kecelakaan terjadi karena pesawat keluar dari landasan pacu selama mendarat, disebabkan oleh pengereman yang tidak optimal.
Pesawat tidak dilengkapi dengan sistem anti-lock braking system (ABS), yang membuat kemampuan pengereman menjadi tidak optimal.
Faktor kontribusi lainnya adalah kurangnya pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan dan kurangnya pengawasan oleh instruktur penerbangan.
Global Aviation Flying School disarankan untuk meningkatkan pelatihan pilot, termasuk pelatihan keterampilan pendaratan dan manajemen risiko penerbangan.
Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) disarankan untuk memperketat persyaratan keselamatan pada sekolah penerbangan dan memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
Produsen pesawat disarankan untuk mempertimbangkan pemasangan sistem ABS pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.
KNKT merekomendasikan regulator penerbangan internasional (International Civil Aviation Organization) untuk melakukan peninjauan terhadap ketersediaan sistem ABS pada pesawat jenis ini.
DETAIL INVESTIGASI
FINDINGS
Berikut adalah detail temuan dalam laporan investigasi kecelakaan pesawat Cessna 172 PK-TGW yang terjadi pada 20 Desember 2016:
- Kecelakaan terjadi saat pesawat mendarat dan keluar dari landasan pacu. Faktor utama penyebab kecelakaan ini adalah pengereman yang tidak optimal.
- Pesawat tidak dilengkapi dengan sistem anti-lock braking system (ABS), yang membuat kemampuan pengereman menjadi tidak optimal. Hal ini membuat pengereman menjadi terhambat dan akhirnya tidak dapat menghentikan pesawat dengan tepat pada saat mendarat.
- Pilot melakukan pendaratan dengan kecepatan terlalu tinggi dan menggunakan jarak pendaratan yang tidak mencukupi, sehingga menyebabkan pesawat keluar dari landasan pacu.
- Pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan sangat minim, yaitu hanya 3 jam dari total 110 jam jam terbang, dan belum dilengkapi dengan pelatihan lanjutan.
- Instruktur penerbangan tidak mengawasi secara langsung ketika siswa melakukan penerbangan solo. Instruktur juga tidak melakukan pengecekan terhadap pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan.
- Pelaksanaan pengujian kelayakan pesawat tidak sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.
- Sistem pengereman pada pesawat juga tidak diperiksa secara rutin dan ditemukan adanya kerusakan pada sistem pengereman pada saat dilakukan pemeriksaan setelah kecelakaan.
- Penyimpanan data pesawat yang direkam oleh kotak hitam tidak terlindungi, sehingga beberapa data yang terekam hilang atau tidak dapat dibaca.
- Global Aviation Flying School tidak memiliki sistem manajemen keselamatan terstandarisasi dan tidak melakukan audit keselamatan secara teratur.
- Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) kurang ketat dalam melakukan pengawasan terhadap sekolah penerbangan dan pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
- Produsen pesawat (Cessna) belum mempertimbangkan pemasangan sistem ABS pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.
Dari temuan di atas, KNKT merekomendasikan beberapa tindakan keselamatan, termasuk peningkatan pelatihan pilot dan manajemen risiko penerbangan, serta pemasangan sistem anti-lock braking system (ABS) pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion. Selain itu, KNKT juga merekomendasikan pihak terkait untuk melakukan tindakan lebih lanjut terkait dengan temuan-temuan di atas.
CONTRIBUTING FACTORS
Berikut adalah detail faktor kontribusi dan daftar rekomendasi dalam laporan investigasi kecelakaan pesawat Cessna 172 PK-TGW yang terjadi pada 20 Desember 2016:
Faktor Kontribusi:
- Pengereman yang tidak optimal karena pesawat tidak dilengkapi dengan sistem anti-lock braking system (ABS).
- Pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan yang sangat minim.
- Instruktur penerbangan tidak mengawasi secara langsung ketika siswa melakukan penerbangan solo dan tidak melakukan pengecekan terhadap pengalaman pilot dalam melakukan pendaratan.
- Pelaksanaan pengujian kelayakan pesawat tidak sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.
- Sistem pengereman pada pesawat juga tidak diperiksa secara rutin dan ditemukan adanya kerusakan pada sistem pengereman pada saat dilakukan pemeriksaan setelah kecelakaan.
- Penyimpanan data pesawat yang direkam oleh kotak hitam tidak terlindungi.
- Global Aviation Flying School tidak memiliki sistem manajemen keselamatan terstandarisasi dan tidak melakukan audit keselamatan secara teratur.
- Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) kurang ketat dalam melakukan pengawasan terhadap sekolah penerbangan dan pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
REKOMENDASI
- Global Aviation Flying School harus meningkatkan pelatihan pilot dan manajemen risiko penerbangan serta melakukan audit keselamatan secara teratur.
- Badan Penerbangan Sipil Indonesia (DGCA) harus memperketat pengawasan terhadap sekolah penerbangan dan pelaksanaan prosedur keselamatan operasi penerbangan.
- Produsen pesawat (Cessna) harus mempertimbangkan pemasangan sistem ABS pada pesawat jenis ini untuk meningkatkan kemampuan pengereman dan mengurangi risiko kecelakaan runway excursion.
- Global Aviation Flying School harus meningkatkan pengawasan dan monitoring terhadap siswa dan instruktur penerbangan selama proses pelatihan.
- Global Aviation Flying School harus melakukan pengujian kelayakan pesawat secara rutin dan terstandarisasi.
- Global Aviation Flying School harus memperbaiki sistem rekaman data pesawat dan melakukan penyimpanan data dengan aman.
- Global Aviation Flying School harus memperbaiki sistem manajemen keselamatan dan meningkatkan pelatihan bagi karyawan dan siswa untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan penerbangan.
Headline
-
DAFTAR SEKOLAH AMTO DI INDONESIA (AIRCAFT MAINTENANCE TRAINING ORGANIZATIONS)
-
AVAILABLE SOON!!! Disclaimer: The test DO NOT assure anyone will pass the test Basic Aircraft Maintenance, this is built for learning and ...
-
Proses Evakuasi Bangkai Mesin PK-LQP JT610 OVERVIEW Pada tanggal 29 November 2018, pesawat Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP m...






